Berkarya Bersama Wihdah

Muslimah Melek Organisasi, Cuek Akademis?

Sebagai wanita, kita dituntut cakap memainkan setiap lini kehidupan. Mengedepankan intelektualitas, juga handal dalam bermasyarakat. Piawai dalam mengelola tim, siap dipimpin namun siap juga memimpin. Di balik kelembutannya, wanita selalu dituntut tangguh dan sempurna. Istilah lainnya, Muslimah Sitt-l-kull. Serba bisa. Tidak salah, sebab wanita kelak akan menjadi cermin bagi generasi setelahnya. Wanita, tunas bangsa.
Namun, dalam perjalanannya, hidup ternyata tidak semulus yang kita impikan. Alih-alih ingin menjadi Muslimah Sitti-l-kull, prestasi akademis malah merosot. Begitu juga sebaliknya. Bagaimanakah opini kaum adam terhadap problematika masisirwati ini?

Amrizal Batubara (Presiden PPMI masa bakti 2013-2014)
Kami sangat menyayangkan jika hal ini sampai terjadi, karena tujuan awal kita datang ke Mesir adalah untuk belajar dan menuntut ilmu. Akademis harus tetap tujuan awal kita dan berorganisasi adalah sebagai penunjuk kesuksesan kita.

Agususanto (Mentri Koordinasi PPMI Masa Bakti 2013-2014)
Dalam dinamika kehidupan keseimbangan sangatlah dibutuhkan, baik keseimbangan dalam kebutuhan primer, skunder dan lain sebagainya. Sedang kehidupan mahasiswa dan pelajar tidaklah bisa kita pisahkan antara akademisi dan organisasi karena dua hal ini ibarat dua sisi mata uang yang haruslah ada dan mahasiswi yang bijak adalah mahasiswi yang dapat menyeimbangkan dua hal ini.

Doni Wahidul Akbar (Ketua KPJ)
Organisasi itu sangat penting menurut saya, kita akan mendapat ilmu dan pengalaman. Dalam organisasi akan membentuk sebuah karakter dalam diri kita, melatih diri kita untuk mengatur diri, emosi, ide dan fikiran. Akan tetapi, ingat organisasi bukan segala-galanya, hanya sebagai sarana melatih diri untuk bertanggung jawab, berdiplomasi, menepati janji, tepat waktu dan mempercayai orang lain atau rekan kerja. Organisator sukses adalah dimana dia bisa menjalankan semua kegiatannya dengan baik, dalam akademis, organisasi, bergaul dan menjaga dirinya sendiri agar tidak lalai dengan organisasi yang dia ikuti. Jadi kesimpulannya organisasi bukan alasan kita untuk kita tidak sukses atau bukan alasan untuk tidak belajar. Semua itu tergantung kepada diri kita.

Ahmad Said Mubarok (Bendahara IKPMA)
Menurut pandangan saya kedua-duanya itu baik yang penting berimbang. Namun bagi yang terlanjur mencintai dunia organisasi, barangkali bisa dievaluasi kembali kegiatannya. Bisa jadi selama ini kita lebih mengutamakan kegiatan organisasinya dibandingkan akademisnya. Tapi di sisi yang lain pengalaman organisasi itu penting untuk pengalaman hidup atau kerja kedepannya, maka yang terpenting kita bisa mengambil manfaat dari kegiatan keorganisasian dan mengimbangi keduanya. Akademis oke, organisasi oke. Karena sekali lagi yang diharapkan oleh orang tua kita ketika mengirim kita ke Mesir adalah kembali dengan membawa ilmu yang bisa membanggakan orang tua, bukannya pengalam berorganisasi. Selagi kita berada di Mesir, mari kita perkaya diri dengan khazanah keilmuan.

Sauqi Noer Firdaus (Ketua Kifayah periode 2013-2014)
Hemat saya, organisasi adalah sebuah wadah yang bermanfaat bagi seseorang baik di kalangan masyarakat secara umum dan mahasiswa atau mahasiswi yang menaruh minat dan bergelut di dalamnya. Namun, yang lebih penting lagi tentunya  bagi seorang mahasiswa memiliki kewajiban untuk belajar. Sedangkan berorganisasi bisa dikatakan bukan suatu kewajiban. Tentunya ssuatu yang bukan wajib bagi kita tidak boleh didahulukan dari yang wajib. Berorganisasi cukup sekali atau setahun atau selama satu priode masa jabatan untuk dijadikan sebagai bekal dan pengalaman. Sehingga tidak berujung terbengkalainya akademisi atau bahkan kegagalan. Semoga kita sama-sama bisa memfungsikan sesuatu sesuai dengan fungsinya. Amin.

Safieqni Hananta (Mahasiswa Fakultas Syariah Islamiyah)
Masisir adalah Mahasiswa, untuk kuliah. Walaupun dengan organisasi, dia masih punya tugas belajar. Berarti jika lebih condong ke organisasi salah. Harus bisa membagi waktu, apa tujuan dia datang ke Mesir, meskipun manfaat organisasi itu banyak. Akan tetapi tetap bisa berperan di keduanya. Jikapun mengikuti organisasi, dia harus bisa mengambil banyak manfaat dari sana. Melatih Leadership, belajar mengatur waktu, memperluas jaringan dan mengasah kemampuan sosial.

Ricky Valdi (Mahasiswa Fakultas Ushuluddin tingkat 2)
Menurut saya, hubungan antara prestasi akademik dengan kesibukan berorganisasi bukanlah sebab-akibat. Apa anda yakin kalau teman-teman yang berhasil meraih jayid jidan adalah orang yang anti organisasi ? Begitu pula dengan teman-teman yang nilainya ala kadarnya, apa iya mereka adalah aktifis yang kaffah dalam berorganisasi ? Faktanya, tidak sedikit teman aktifis yang nilainya justru membanggakan. Bahkan tidak jarang nilai-nilai yang mengecewakan justru menghantui teman-teman yang hobi mengunci diri. Kesadaran untuk memperkaya diri melalui kegiatan akademis akan melahirkan keinginan untuk mengaktualisasi diri dalam berorganisasi. Ibarat emotion dengan motion. Kalau emosinya senang, perbuatannya pun menyenangkan. Begitu pula sebaliknya.

Wahyu Firmansyah ( Fakultas Syariah Islamiyah )
Menurut saya itu merupakan hal yang kurang bijak meskipun organisasi mempunyai peran penting, tetapi tetap prioritas akademis lebih utama untuk prospektif kedepannya. Cobalah kita cash back tentang tujuan atau niat kita sebelum memasuki lembaga pendidikan, juga tentang amanat orang tua kita. Memang semuanya tidak menafikan kita untuk berorganisasi. Ya, setidaknya kita tahu diri dan dapat berlaku adil terhadap keduanya.

Sobat Citra,
Jika kita amati dan hayati kembali keberadaan kita disini, maka menyeimbangkan prestasi dan kecakapan berorganisasi menjadi pe-er yang harus kita wujudkan bersama. Melek organisasi boleh, asal jangan cuek akademis, deh!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

WIHDAH-PPMI MesirBersatu2014-2015 | DPP-WIHDAH Copyright © 2014

Gambar tema oleh chuwy. Diberdayakan oleh Blogger.