Coba anda duduk dengan seseorang dan angkat satu topik pembahasan, tentu anda akan melihat bagaimana caranya berfikir dan berbicara. Lalu, lima atau sepuluh tahun kedepan, coba duduk kembali dengannya dan bahas topik yang sama! Apakah kemampuan logika dan bicaranya masih seperti dulu atau ada perubahan yang semakin baik?
Ini adalah salah satu contoh kasus yang dipaparkan oleh Dr. Muhammad El-Uraify dalam kitabnya`Istamti`Bihayatik` dalam satu judul pembahasan 'Thawwir Nafsak'. Ya, itulah kita, menghabiskan masa empat tahun atau lebih di negeri ini sebagai penuntut ilmu. Namun bisa dipastikan, kuantitas waktu tidak menjamin kuantitas dan kualitas ilmu yang didapat. Melanjutkan cerita di atas, Dr. Uraify memaparkan, sebenarnya sangat mudah menandai ciri berkembangnya kualitas seseorang atau tidak, cukup lihat pada kondisi dan apa yang menyibukkan perhatiannya!
Contohnya, lihat pada tontonan dan bacaannya. Ada orang yang tontonannya adalah tayangan-tayangan yang selalu mengajaknya berfikir dan mengembangkan wawasan. Ada juga orang yang tontonannya hanya seputar sinetron, telenovela dan sejenisnya. Setelah lima tahun kedepan, coba bandingkan antara keduanya! Model mana yang lebih banyak dan berkembang pengetahuannya? Pasti jawabannya ada pada orang yang pertama. Bahkan cara bicaranya saja sudah sangat berbeda. Orang pertama ketika berbicaraakan mengeluarkan dalil-dalil syar`i, data yang valid dan sejenisnya. Adapun orang kedua, pendapatnya biasanya ia kuatkan dengan perkataan dan ungkapan para artis, mulai artis lokal sampai luar negri.
Sungguh, padahal usia muda adalah masa-masa dituntutnya sebuah tujuan besar. Bukankah masa depan sebuah bangsa tergantung pada generasi mudanya?Rasulullah pernah berkata,"Sebaik-baik kurun adalah kurunku dan masa setelahku dan setelahnya dan setelahnya". Bagaimana kurun-kurun itu tidak menjadi kurun terbaik dalam sejarah, sebab ia ditopang oleh generasi muda semacam Ali bin Abi Thalib, Usamah bin Zaid, Muadz bin Jabal dan yang lainnya. Dalam salah satu syairnya tentang generasi muda, Muhammad Shodiq Ar-Rofi`i seorang penyair dan sastrawan mengatakan "Asy syamsu la tamla`u an nahar fi akhirihi kama tamla`uhu fi awwalihi", maknanya kurang lebih adalah matahari di awal siang itu tidak sama dengan matahari sore hari. Ya, kita inilah sinar matahari yang masih di awal siang, masih segar dan sehat!
Konkritnya, lalu apa yang harus kita lakukan untuk menjadi generasi yang meneruskan estafet peradaban sebuah bangsa? Jawabannya, setiap kita harus punya tujuan, tujuan itu adalah menjadi khalifatullah fil ard. Bukankah Nabi Adam manusia pertama diciptakan untuk memakmurkan bumi? Maka, ketika seseorang bercita-cita menjadi guru misalnya, bukan status gurunya yang menjadi tujuan, tapi menjadikan profesi guru sebagai sarana untuk mewujudkan kebaikan umat, mengkhidmah masyarakat dan menjadi jalan hidayah bagi orang lain. Memakmurkan bumi, khalifatullah fil ardatau menegakkan peradaban rabbani dan menyebarkan Islam rahmatan lil alamin adalah tujuan, sedangkan profesi adalah sarananya. Oleh sebab itu, segala proses kehidupan seperti menjadi istri, punya anak, berstatus PNS, menjadi tokoh masyarakat dan lainnya bisa menjadi sarana mewujudkan tujuan besar tadi. Oleh sebab itu, kita membaca bahwa ilmu yang harus dipelajari oleh seorang muslimah itu ada dua macam:
Pertama, Ilmu yang fardhu `ain, meliputi ilmu-ilmu yang berkaitan dengan sahnya akidah, ibadah, akhlak dan semacamnya.
Kedua, Ilmu yang fardu kifayah, meliputi ilmu-ilmu yang dibutuhkan oleh ummat. Seperti ilmu kedokteran, terlebih dokter kandungan, alangkah kasihan para wanita yang harus membuka auratnya di depan dokter lelaki hanya disebabkan tidak adanya dokter perempuan. Begitu juga profesi-profesi lainnya seperti guru, insinyur dan lainnya.
Dengan kedua macam ilmu inilah para Muslimah Azhariyah merubah peradaban. Terlebih saat sebagian kalangan di negara kita terjangkiti penyakit Islamophobia. Nilai-nilai Islam juga sudah mulai terasa jauh penerapannya dalam kehidupan. Lihat saja akhir-akhir ini marak seruan menggolkan GLBT(gay, lesbian, bisexual dan transgender) satu hal yang jelas-jelas diharamkan oleh Islam. Tugas kitalah menyampaikan ajaran Islam ini dengan semurni dan sebaik-baiknya, dan semua ini ini tidak cukup hanya di bangku kuliah, butuh perjuangan serius!
Dan perjuangan itu mustahil dipikul sendiri. Untuk mencetak sebuah gol saja seorang pemain hebat seperti Messi butuh bantuan pemain lainnya apalagi untuk menggolkan proyek-proyek Allah. Proyek menjadikan Islam sebagai guru peradaban dunia harus menjadi pikiran besar kita, kita semua, bukan kamu sendiri atau saya sendiri. Mungkin dari semua kalimat di atas pernyataan Syaikhul IslamIbnu Taimiyah berikut bisa menjadi kata kunci untuk apa kita di sini,"Qimatul mar'i ma yatlubu" . (Nilai seseorang terletak pada apa yang dia inginkan).Dan Anda?
Hayati Fashiha Lubis©Mahasiswi pasca sarjana jurusan Ushul Fiqh.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar